Himpunan Alumni IPB
Abah, Inspirator Sikap dan Perbuatan Hebat


(Senin, 8 Mei 2017)

Oleh: Mukhlis Yusuf *)


Banyak memori bersama almarhum Abah, banyak inspirasi dan pelajaran hidup yang tersimpan di hati ini, tulisan ini tentu tak akan bisa menguraikan semua memori itu. Saya ingin berbagi sebagian kecil saja sebagai pelajarn hidup bagi kami, anak-anaknya.


Saya ingin bercerita tentang tiga kisah hidup masa kecil dan remaja di kota kecul bernama Menes dan Pandeglang yang kelak menjadi memori, terus hidup dan menjadi inspirasi saya dalam menapai perjalanan hidup.


Kisah pertama tentang betapa indahnya membangun relasi panjang. Sebagai Wadana Menas, yang memimpin sejumlah Kecamatan, ayahanda sangat senang mengunjungi para ulama dan masyarakat kebanyakan. Saya sering diajak menemani kunjungan-kunjungan itu, duduk dibonceng kendaraan roda dua warha hijau kesayangannya.


Meski disiapkan fasilitas kendaraan roda empat, VW warna abu-abu, abah sering menggunakan kendaraan roda dua lantaran kondisi jalanan kecil, keluar dan masuk desa-desa dan kampung-kampung di wilayah Kawedanaan Menes, Kabupaten Pandeglang..


Perbincangan hangat dan akrab senantiasa menyertai kunjungan itu diselingin santapan hidangan pisang goreng atau singkong goreng dari tuan rumah, tak lupa Abah selipkan pesan-pesan penting tentang penggunaan Pupuk dalam usaha tani, aturan-aturan dan pentingnya keluarga berencana dan anak-anak bersekolah. Kala itu, kampanye Keluarga Berencana (KB) sedang digalakkan Pemerintah untuk menekan laju pertambahan penduduk.


Abah melakukan kunjungan-kunjungan itu hampir setiap akhir pekan, bertahun-tahun. Kadang Abah membawa sarung sebagai oleh-oleh untuk para sahabatnya.


Salah satu kunjungan paling saya sukai bila sedang musim durian. Biasanya kami disuguhi hidangan durian jatuhan, dan pulangnya dibekali oleh-oleh durian atau rambutan untuk dibagikan kepada staf kantor Kawedanaan Menas esoknya atau kakak serta adik yang tak ikut serta.


Memori yang menyenangkan.


Kejadiannya pada puluhan tahun yang lalu, namun rasa dan aroma durian itu masih terus terbayang hingga kini. Nikmatnya.


Diam-diam Abah sedang mengajarkan kami tentang indahnya silaturahim dan bagaimana memeliharanya.


Abah pun selalu rajin menyimak dan mendengarkan penuturan lawan bicaranya dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pendek yang membuat sang tuan rumah makin semangat bercerita.


Kala itu, saya sering terkantuk-kantuk dan terpaksa ikut mendengarkan. Namun, diam-diam memori itu melekat kuat dan mengajarkan saya tentang pentingnya mengunjungi sehabat, menyimak dan mendengar dengan penuh empati dan menutup pertemuan dengan ajakan untuk terus merawat silaturahim, luar biasa.


Kisah kedua tentang kekuatan story telling. Bila hari libur atau pulang sekolah saya pun sering diajak menemani Abah menghadiri acara atau undangan.  Saya sering dibiarkan duduk dibawah meja tempat Abah membuka acara atau menyampaikan sambutan. Meski berkali-kali tertidur kelelahan, Abah membiarkan saya di tempat, toh tak terlihat dari depan oleh peserta dan tak mengganggu acara.


Saya lupa kisah-kisah pembuka sambutan Abah, namun membuka sambutan dengan cerita rupaya membuat setiap forum yang Abah hadiri biasanyaa berjalan khidmat, jarang yang berisik. Peserta tekun menyimak. Abah bukan penyampai jokes atau lelucan yag hebat, melainkan penutur kisah-kisah yang hidup dan menarik.


Biasanya kisah-kisah itu berupa kisah-kisah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, para sahabat, para pahlawan nasional, M. Nats, Buya Hamka dan para pejuang Republik Indonesia lainnya. Khusus M. Nasir dan Buya Hamka, Abah paling sering bercerita bagaiman keduanya menjadi teladan kepemimpinan. Perbedaan pandangan M. Natsir dan Buya Hamka dengan Bung Karno tak lantas membatasi persahabatan mereka.


Berbeda pendapat soal muamalah adalah hal biasa kata Abah. Pelajaran hidup yang terus melekat.


Abah juga sering mengajak kami membaca koran dan majalah. Kala itu, kami berlangganan Haran Pelita, Koran Abadi dan Majalah Panji Masyarakat. Saya sering membuat kliping sepak bola dan badminton. Kisah kekalahan Rudy Hartono dari Spent Pri pada sebuah Final All England membuat kami tenggelam dalam kesedihan berhari-hari.


Saya pun masih ingat memori bagaimana Abah menemani kami menonton Final Piala Dunia tahun 1978 saat Mario Kempes Argentina membuat Belanda menangis.


Abah menemani kami menikmati berbagai tayangan itu dan mengajak kita belajar menerima kekalahan.


Kisah ketiga adalah tentang penghargaan. Abah jarang memberikan hadiah kala kami meraih prestasi akademik di sekolah umum. Memang, abah dan Ibu tak pernah lupa memberikan pujian dan dorongan atas raihan prestasi akademik itu. Namun Abah tak pernah lupa memberikan pujian ditambah hadiah manakala kami berprestasi di sekolah Agama.


Kala itu, pagi kami sekolah umum, sore bersekolah di sekolah agama, madrasah Ibtidaiyah. Saya masih ingat dua kali mendapat hadiah uang saku dan tabungan karena berprestasi di sekolah agama. Abah juga sering bercerita tentang Pesantren Gontor dan meminta saya bersiap-siap masuk Gontor bila kelak lulus SD.


Soal ini saya sempat mengecawakan Abah karena tak bersedia masuk Gontor. Bayangan saya tentang pesantren tak menarik, santrinya tak menjaga kebersihan dan merokok. Memori itu rupanya saya peoleh dari beberapa kunjungan ke pesantren menemani Abah di beberapa wilayah Banten kala itu.


Sebagai pengganti kekecewaan Abah, saya sering ikut Pesantren Kilat selama Liburan Ramadhan baik kala sekolah di SMP maupun SMA. Sedikit mengobati kekecewaan Abah.


Belakangan kondisi kebersihan sejumlah Pesantren di Banten itu pun mulai berubah. Namun, saya sudah terlanjur masuk SMA di Kota Serang. Saya minta izin dan dukungan Abah untuk mencari SMA terbaik di Banten, SMA 1 Serang, mengikuti jejak kakak tertua yang sukses tembus Proyek Perintis 1, masuk perguruan tinggi negeri utama.


Belakangan juga saya terlambat mengetahui betapa Gontor adalah tempat yang hebat dan asyik untuk belajar kepemimpinan. Saar kuliah di Bogor saya mulai berinterkasi dengan para alumni Gontor yang keren.


Dari tiga kisah hidup itu saya sangat bersyukur memiliki seorang ayah hebat yang inspiratif. Mengajari dan mendidik anak bukan semata dengan kata-kata dan nasihat lisan, melainkan dengan praktik, contoh dan perbuatan.


Benar adanya, perbuatan lebih keras dan berdampak ketimbang kata-kata.


Kebiasaan Abah untuk selalu menyisihkan zakat dan menolong orang lain tak pernah diucapkan, namun cukup dilakukan terus-menerus. Tak jarang kami yang ditugaskan untuk melakukannya. Abah sedang mendidik kami, tentang prinsip mengelola rizki, setiap rizki yang kita terima ada hak orang lain yang harus dikeluarkan. Pemberih harta yang Allah titipkan.


 


Sekali lagi, perbuatan lebih keras dampaknya dari ribuan kata-kata. Action speaks louder than words.


Terima kasih Abah, engkau Pahlawan hebat. Semoga engkau tenang beristirahat. Bersama Ibunda dan para guru, Engkau guru dan pendidik sejati.


Engkau pun pamit meninggalkan kami tahun 1991 tak lama setelah saya menyelesaikan pendidikan sarjana di IPB tahun 1990.


Engkau bekali kami dengan keyakinan bahwa Allah selalu dekat, lebih dekat dari pada ular nadi kita. Engkau tak pernah menitipkan pesan lain, kecuali hidup mengikuti tuntunan Al Qur’an dan praktik akhlak Nabi Muhammad SAW.


Terima kasih Abah. Engkau hebat.


 


*) Executive Coach, Direktur Utama LKBN ANTARA tahun 2007-2012, twitter @mukhlisyusuf


 


Sumber gambar: Inilah.com


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB