Himpunan Alumni IPB
Bambang Hero Saharjo Antarkan Fahutan IPB Terbaik Se-Indonesia

Kecintaannya terhadap hutan berawal dari peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi sekitar tahun 1982 dan 1983 di Kalimantan Timur. Bencana ini menghancurkan sekitar 3,6 juta hektar hutan dan lahan. Dahsyatnya, proses yang terjadi serta dampak yang ditimbulkan berupa rusaknya flora dan fauna serta dampak negatif lain menguatkan keinginannya untuk menjadi bagian dari upaya penyelamatan sumberdaya alam. Khususnya hutan dari ancaman perusakan juga selain mengungkap latar belakang dan modus serta siapa yang berada di balik tragedi tersebut.

 

Ia adalah Prof. Dr. Ir. Bambang Hero Saharjo, M.Agr yang kini menjabat sebagai Dekan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (Fahutan - IPB). Guru Besar Kehutanan kelahiran Jambi, 50 tahun silam ini pernah mengenyam pendidikan di IPB dan Kyoto University Jepang, khusus mendalami kehutanan.

 

Selama mendapat amanah sebagai Dekan Fahutan IPB, Prof. Bambang mengusung visi menjadikan Fakultas Kehutanan IPB sebagai trendsetter pembangunan kehutanan Indonesia dan menjadi referensi bagi dunia dalam mempelajari masalah-masalah kehutanan tropis.

“Alhamdulillah tahun 2013 yang lalu Fakultas Kehutanan IPB masuk ranking 200 besar Fakultas Kehutanan terbaik sedunia dan itu berarti telah menjadikan Fahutan IPB sebagai nomor satu di Indonesia,” tuturnya saat diwawancara reporter Agrimag IPB.

 

Misi dalam lima tahun kepemimpinannya adalah mengembalikan kebersamaan dalam hal persatuan dan kesatuan di Fakultas Kehutanan IPB agar menjadi milik setiap civitas akademika, menjadikan Fakultas Kehutanan IPB sebagai Fakultas Kehutanan yang beradab, bermartabat, berwibawa, dan patut diperhitungkan baik di dalam maupun di luar negeri, memfasilitasi, memacu, dan meningkatkan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi menuju Fakultas Kehutanan IPB yang membanggakan.

 

Dari visi dan misi tersebut, Prof. Bambang berharap Fakultas Kehutanan IPB menghasilkan sarjana kehutanan yang kompeten di bidangnya. Lulusan Fakultas Kehutanan adalah lulusan IPB yang khas karena mereka melalui proses penggemblengan yang cukup panjang sehingga masa studinya pun saat ini relatif lebih lama dibandingkan dengan Fakultas lain. Hal itu terjadi karena sebagian besar dari mahasiswa menghabiskan waktunya di lapangan melalui praktek maupun kegiatan lapangan lainnya sesuai departemennya masing-masing seperti Ekspedisi, Surili, dan lain sebagainya. Melalui cara-cara seperti ini diharapkan mahasiswa banyak tahu kondisi real di lapangan problem, berikut solusinya sehingga idealisme yang tertanam dalam diri mereka benar-benar sudah melalui proses sehingga lulusan yang dihasilkan pun benar-benar memiliki idealisme yang tinggi.

 

Kiprah Fakultas Kehutanan

Kondisi kehutanan Indonesia saat ini dapat dikatakan sedang berada dalam keadaan ”sakit”. Saat jayanya, devisa dari sektor kehutanan masuk sebagai lima besar penghasil devisa terbesar untuk negara. Namun seiring berjalannya waktu, sumbangan untuk devisa negara tersebut makin berkurang dan makin banyak konflik yang timbul baik terkait masyarakat maupun kebijakan yang dirasa belum mampu memaksimalkan peranan sumberdaya kehutanan. Hal tersebut diperburuk lagi dengan adanya perubahan kebijakan lewat bergantinya pejabat di kementerian. Perubahan memang perlu, hanya saja perubahan tersebut terkadang tidak menuju kondisi yang lebih baik.

 

Menurutnya, banyak hal yang dapat dilakukan Fakultas Kehutanan IPB dalam memaksimalkan upaya pemanfaatan kehutanan Indonesia khususnya dalam penyelamatan sumber daya alam (hutan). Salah satunya adalah melakukan penelitian dan pengkajian aspek-aspek kehutanan yang sedang menjadi topik bahasan public serta terjun langsung membantu memecahkan masalah dengan cara memberikan solusi cerdas baik jangka pendek maupun jangka panjang. Selain itu dapat pula membangun jaringan komunikasi nasional dan internasional yang diharapkan mampu mengurangi tekanan terhadap perusakan sumberdaya hutan.

 

Banyak hal yang dapat dilakukan dalam meningkatkan performa kehutanan Indonesia, selain peningkatan kualitas sumberdaya manusia, juga melakukan evaluasi terhadap kinerja yang sudah dilakukan serta perbaikan terhadap kebijakan yang sedang dibangun yang mungkin belum menunjukkan performa yang baik serta mengembalikan perannya kembali atau back to nature.

 

Banyak riset-riset IPB khususnya terkait masalah kehutanan yang dapat digunakan untuk membantu mengatasi masalah kehutanan Indonesia, seperti energi terbarukan yang bersumber dari bahan baku biomassa, jasa lingkungan, ekowisata, transaksi perdagangan karbon, dan pengurangan emisi gas rumah kaca.” Hanya saja terkadang hasil-hasil penelitian tersebut tidak banyak digunakan oleh kementerian kehutanan dengan berbagai alasan yang terkadang tidak dapat dimengerti,” tandasnya.

 

”Fakultas Kehutanan IPB selama ini sudah banyak terlibat dalam upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan yaitu mulai dari kegiatan pencegahan, pemadaman maupun penanganan pasca kebakaran,” terangnya.

Prof. Bambang menambahkan, dalam usaha pencegahan, kegiatan yang dilakukan adalah secara langsung terjun ke lokasi rawan kebakaran untuk memberikan solusi agar pembakaran lahan ditekan serendah mungkin dengan cara memanfaatkan bahan bakar yang selama ini digunakan untuk mendapatkan abunya yaitu mengubahnya menjadi kompos, arang, berikat arang bahkan menjadikannya sebagai sumber bahan baku (biomassa) untuk pembangkit listrik dan juga dihasilkannya biogas dan pupuk cair. Pada kegiatan pemadaman dilakukan dengan pelatihan-pelatihan yang dilakukan di bawah koordinasi Fahutan, termasuk evaluasi terhadap sarana dan prasarana pengendalian kebakaran yang sudah dimiliki. Pada kegiatan penanganan pasca kebakaran yaitu dengan melibatkan diri menjadi saksi ahli kebakaran hutan dan lahan dalam mengungkap modus, latar belakang, dan kemungkinan pelaku yang berada di balik pembakaran.

 

“Pengelolaan kawasan hutan hendaknya menjadi tanggung jawab bersama dan tidak sepenuhnya dibebankan kepada Kementerian Kehutanan semata, karena ada hal-hal yang mutlak menjadi tanggung jawab kementerian namun banyak juga yang merupakan tanggung jawab bersama dengan masyarakat,” jelasnya.

 

Ditandaskannnya, peran lulusan kehutanan hendaknya menjadi contoh dalam penerapan kaidah-kaidah yang benar dalam pengelolaan kawasan hutan dan bukan sebagai penonton atau malah mengikuti arus. Peran masyarakat teramat penting dalam menciptakan suasana yang kondusif dan pengelolaan yang maksimal. Tidak sedikit masalah yang timbul saat ini tiada lain adalah akibat kurang maksimalnya peran masyarakat. (zul)

Sumber: http://ipbmag.ipb.ac.id/


Galeri
Korporat
Rabu, 21 September 2016 10:20 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 09:03 WIB
Kamis, 17 September 2015 09:29 WIB
Rabu, 16 September 2015 07:28 WIB
Jum'at, 28 Agustus 2015 09:57 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 14:01 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:30 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:23 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:19 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 11:02 WIB
Rabu, 20 Mei 2015 10:57 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:14 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:07 WIB
Kamis, 30 April 2015 14:05 WIB
Selasa, 28 April 2015 01:43 WIB
Tokoh
Kamis, 16 Maret 2017 07:58 WIB
Senin, 6 Maret 2017 16:46 WIB
Selasa, 28 Februari 2017 11:46 WIB
Rabu, 25 Januari 2017 12:43 WIB
Jum'at, 20 Januari 2017 09:42 WIB
Jum'at, 6 Januari 2017 13:46 WIB
Minggu, 30 Oktober 2016 21:42 WIB
Jum'at, 21 Oktober 2016 04:35 WIB
Senin, 17 Oktober 2016 12:14 WIB
Selasa, 19 Januari 2016 12:58 WIB
Senin, 28 Desember 2015 11:18 WIB
Jum'at, 18 Desember 2015 15:34 WIB
Senin, 14 Desember 2015 15:44 WIB
Rabu, 9 Desember 2015 10:32 WIB
Senin, 26 Oktober 2015 20:29 WIB
Senin, 12 Oktober 2015 07:54 WIB
Selasa, 22 September 2015 12:04 WIB
Senin, 7 September 2015 14:33 WIB
Sabtu, 22 Agustus 2015 09:41 WIB
Selasa, 21 April 2015 11:30 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:39 WIB
Minggu, 19 April 2015 19:34 WIB
Kamis, 16 April 2015 20:44 WIB
Artikel
Jum'at, 11 Agustus 2017 00:00 WIB
Rabu, 7 Juni 2017 00:00 WIB
Senin, 8 Mei 2017 00:00 WIB
Rabu, 15 Maret 2017 00:00 WIB
Selasa, 14 Maret 2017 00:00 WIB
Sabtu, 4 Maret 2017 00:00 WIB
Jum'at, 3 Maret 2017 00:00 WIB
Minggu, 26 Februari 2017 00:00 WIB
Sabtu, 25 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 24 Februari 2017 00:00 WIB
Rabu, 8 Februari 2017 00:00 WIB
Selasa, 7 Februari 2017 00:00 WIB
Jum'at, 27 Januari 2017 00:00 WIB
Selasa, 24 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Senin, 23 Januari 2017 00:00 WIB
Rabu, 11 Januari 2017 00:00 WIB